-->

Terkait Meninggalnya Ales Si Pencari Kayu Bakau, Pengusaha Arang Angkat Bicara.


fiksumnews.com - Rupat Utara : Maraknya pemberitaan di media sosial terkait meninggalnya Alm. Ales si pencari kayu arang yang tenggelam saat mencari Kayu Bakau di sungai Niur pada Minggu, (23/8) lalu dan telah di temukan di perairan pulau Jemur pada Minggu, (31/9) kemarin.

Bahkan sempat viral melalui postingan di berbagai media sosial akan peristiwa yang terjadi pada Alm. Ales warga dusun Hutan Samak Desa Titi Akar  berujung menyudutkan salah seorang pengusaha kayu arang di Rupat Utara.

Kepada fiksumNews.com, Selasa, (1/9) salah seorang pengusaha kayu arang, Atian di kediamannya di Desa Titi Akar Kecamatan Rupat Utara mengatakan, bahwa insiden atau tenggelamnya korban atas nama Ales pada saat mencari kayu bakau, itu merupakan musibah akibat angin kencang dan tingginya  gelombang pasang.

Korban meninggal dunia saat mencari kayu bakau itu bukan anggota kerja saya. Saya hanya membeli hasil bahan yang telah jadi, sebutnya.

Terkait peristiwa tersebut, merupakan betul betul musibah, pihak berwajib juga mengetahui akan hal itu, ucapnya.

Atian mengaku merasa risih dan terganggu, bahwa dirinya sering mendapatkan telfon dari seseorang yang mengaku sebagai lembaga kontrol sosial, sejak munculnya berita musibah itu di media massa.

Kejadian tersebut telah dijelaskan  lewat pemberitaan, media yang beritakan oleh Jurnalis Forum wartawan Rupat dan langsung turun ke lapangan bersama tim kepolisian dan pihak terkait  lainnya.

Secara sosial, Beliau juga telah  membantu keluarga korban  kecelakaan tersebut sebagai sumbangsih duka.

" Menyangkut pekerja itu dan kapan mereka berkerja serta berapa hasilnya, itu semua di luar kewenangannya, Saya hanya membeli arangnya, kemudian menjualnya kembali melalui koperasi.

Kadang juga pemasarannya sampai ke Dumai, tergantung permintaan domestik, tuturnya.
Disebutkannya, padahal disini banyak juga pengusaha pembeli arang, namun mengapa harus saya saja yang di teror, seolah-olah dirinya sebagai puncak kejadian tersebut, cetusnya.

Kalau soal pekerjaan, sejak dari dahulu masyarakat asli Rupat ini kerjanya di hutan menebang kayu untuk membuat arang, jelasnya.

Diharapkan, tidak ada lagi postingan-postingan terkait musibah itu, kasihan keluarga korban. Mereka sudah pasrah atas kejadian ini, jangan kita tambahkan lagi duka mereka melalui postingan - postingan yang tiada manfaatnya.

Melalui pemberitaan ini, saya juga turut berdukacita dan simpati terhadap keluarga korban, semoga Tuhan dapat memberikan ketabahan terhadap keluarga yang di tinggalkan" pungkas Atian mengakhiri, (Indra.S)
Komentar

Berita Terkini