harianfikiransumut.com

Irwan Nasir Dampingi Kepala Desa Pelantai Laporkan Warga Pelantai Yang Hilang ke Ombudsman

harianfikiransumut.com | PEKANBARU - Walaupun sudah tidak menjabat sebagai Bupati Kepulauan Meranti, Drs H Irwan Nasir tetap mendampingi Kepala Desa Pelantai, Kecamatan Merbau, Khairi untuk melaporkan warganya yang hilang ke Ombudsman Provinsi Riau, Senin (21/6/2021).


Pelaporan yang juga didampingi kuasa hukumnya, Bony Nofriza SH itu berkaitan dengan dihentikannya penyelidikan oleh kepolisian Resort Indragiri Hilir beberapa waktu lalu.


Irwan Nasir mengatakan jika dirinya tidak tinggal diam jika ada warganya yang hilang, namun hingga kini belum mendapatkan kejelasan, sementara keluarga korban masih menanti kabar tersebut.


"Saat ini ada tiga orang warga Kepulauan Meranti yang hilang dan hingga kini tidak ada kabarnya sama sekali, sementara sanak keluarga mereka menunggu, tentunya kita tidak akan tinggal diam dan berharap ini ada titik terangnya," kata Irwan Nasir.


Diceritakannya, awal kejadian bermula saat kapal milik Kepala Desa Pelantai, Khairi disewa oleh salah seorang pengusaha untuk membawa muatan berupa biji kelapa dari Tanjung Jabung, Jambi ke Guntung, Tembilahan. Didalamnya terdapat awak kapal dan tiga orang diantaranya merupakan warga Kepulauan Meranti.


Namun ditengah perjalanan, kapal dikabarkan karam di perbatasan Riau- Jambi dan tiga ABK yang merupakan warga Kepulauan Meranti itu hilang, anehnya sang kapten dinyatakan selamat dan bangkai kapal beserta muatannya hilang tidak berbekas.


Dikatakan, pihaknya sudah melaporkan ke beberapa pihak, namun belum ada tanggapan.


"Awalnya kita sudah melaporkan hal ini ke Bakamla Batam, kemudian ke Ditpolair Polda Kepri, namun tidak ada respon, baru kemudian kita melaporkan hal ini ke Polres Inhil dan laporan kita diterima. Setelah itu pihak kepolisian menerbitkan Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) dan penyelidikan dihentikan dengan alasan kapal dinyatakan karam," ujar Irwan.


Dengan melaporkan hal ini ke Ombudsman, Irwan mengharapkan kasus ini dilakukan penyelidikan kembali dan berharap korban ditemukan.


"Kita berharap kasus ini dilakukan penyelidikan kembali dan korban bisa ditemukan, saat ini kan kita tidak tahu apakah korban disekap, ditawan ataupun dibunuh. Dari pernyataan kapten kapal tenggelam, namun anehnya barang bawaan berupa kelapa tidak ada ditemukan di sekitar tempat kejadian, ini kan sangat aneh. Minggu depan kita akan bawa keluarga korban ke komisi II DPR RI dan memperjuangkan hal ini hingga ke tingkat nasional," pungkasnya.


Sementara itu Kepala Desa, Pelantai, Khairi yang dikonfirmasi mengatakan kapal dengan kapasitas 150 ton itu

merupakan miliknya dan ada tiga warga Kepulauan Meranti yang ikut dan dua orang diantaranya merupakan saudara dekatnya. Dirinya merasakan keanehan dalam peristiwa ini, untuk itulah dia berusaha untuk mendapatkan keadilan agar warganya yang hilang bisa ditemukan.


"Saya mendapatkan kabar dari kapten jika kapal itu karam pada 9 Desember 2020 lalu dan ABK dinyatakan hilang, padahal beberapa saat setelah kejadian, kita masih bisa berkomunikasi dengan ABK. 


Didalam kapal itu ada abang kandung dan sepupu saya. Saya merasakan keanehan dalam peristiwa ini, sepertinya sudah ada rencana jahat yang disusun rapi, Untuk itu kami terus memperjuangkan hal ini untuk mendapatkan kepastian," ungkap Khairi. 


Penulis : Syaban

Komentar

Berita Terkini