harianfikiransumut.com

Dikabarkan, Wakil Menteri Desa PDTT Akan Berkunjung Ke Aceh Tamiang

Jakarta | Wakil Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal & Transmigrasi (Kementerian PDTT), Budi Arie Setiadi direncanakan akan berkunjung ke Kabupaten Aceh Tamiang pada pertengahan Oktober 2021 mendatang.

Hal itu diungkapkannya pada saat menerima audiensi Bupati Aceh Tamiang H. Mursil SH. M.Kn bersama rombongan yang berlangsung di ruang kerjanya, Jakarta, Kamis, 30 September 2021.

Dalam pertemuan kurang lebih 1 jam itu,  Wakil Menteri PDTT, Budi Arie sempat menjelaskan, bahwa dalam kunjungannya nanti juga akan melaksanakan kegiatan Vaksin, penguatan peran BUMDes dan sosialisasi tentang efektifitas dalam penanganan Stunting, sebutnya.

Dikesempatan itu, Budi Arie juga menjelaskan tentang peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang harus difungsikan sebagai peran strategis dalam mendorong percepatan kesejahteraan warga melalui program pengelolaan potensi Desa, pembangunan Desa dan pembangunan Daerah. 

Daya dukung infrastruktur yang baik dan layak juga mempunyai peran penting dalam menghidupkan potensi sektor pariwisata, sektor industri dan penyebaran ekonomi yang merata dalam Desa, antar Desa serta antar wilayah, ungkapnya.

Sebelumnya, Bupati Aceh Tamiang, H. Mursil SH. M. Kn dalam kegiatan beraudiensi dengan Wakil Menteri Desa PDTT turut pula didampingi Kadis DPM PPKB Aceh Tamiang, Mix Donal, SH, Camat Rantau, Oki Kurnia, S.STP, Camat Tenggulun, Rusni Devi M, S.STP, MM, Camat Kejuruan Muda, Dede Winatha, S.STP, Kabid Pemberdayaan Masyarakat DPM PP-KB Sandi Suhendri, S. STP serta  perwakilan masyarakat Ketua Aliansi 3 Kampung Persiapan Aceh Tamiang (AKPAT), Sugiono, SH.

Dalam pertemuannya, Mursil, SH, M.Kn juga menyampaikan sekilas gambaran umum keadaan wilayah Kabupaten Aceh Tamiang, sebagai Daerah perbatasan dengan Provinsi Sumatera Utara.

Diterangkannya, bahwa Aceh Tamiang mempunyai peran strategis sebagai kawasan penyangga untuk Kabupaten Aceh lainnya yang lebih banyak mobilisasi transaksi ekonomi di Medan Sumatera Utara dengan jarak tempuh Aceh Tamiang ke Medan hanya 3 s/d 4 jam, sedangkan ke Banda Aceh kita butuh waktu 9 s/d 10 jam melalui perjalanan darat. 

H. Mursil, SH, M. Kn menjelaskan, Kabupaten Aceh Tamiang terdiri dari 12 Kecamatan dengan sebaran 213 Kampung/Desa, dengan potensi sumber daya alamnya beraneka ragam kekayaannya.

Kabupaten Aceh Tamiang memiliki potensi kesuburan tanah untuk sektor pertanian - perkebunan, migas, tambang, sektor wisata : air, hutan, pantai, cagar budaya, konservasi, tuntong (kura-kura) dengan habitat terbesar berada di Kecamatan Seruway, Bendahara, dan Banda Mulia, ucap Mursil.

Bahkan International Union for Conservation of Nature (IUCN) telah menetapkan tuntong sebagai satwa yang sangat terancam punah atau kritis yang ada di Kabupaten Aceh Tamiang.

Perlindungan terhadap tuntong juga tertuang dalam Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 57 Tahun 2008. Tidak  hanya itu, Mursil menceritakan tentang sejarah perkebunan kelapa sawit secara komersial, bahwa perkebunan kelapa sawit pertama kali di Dunia berada di Sungai Liput Aceh Tamiang.

Begitu juga sektor Migas Rantau yang tercatat dalam sejarah awal eksplorasi perminyakan di Dunia. Produksi, proteksi dan inklusi (PPI) Compact yang diimplementasikan melalui program 

Verified Souching Area/Daerah Sumber Terverifikasi memiliki target peningkatan kemampuan dan kesejahteraan petani dengan output sertifikasi ISPO dan RSPO bagi petani, dan menjadi sasaran awal 2700 petani pekebun kelapa sawit sebagai pilot project dunia, ungkapnya mengakhiri.


Laporan | pakar

Komentar

Berita Terkini