Kisruh Usai Persidangan di Pengadilan Agama Selatpanjang; Ini Pengakuan Ardat.


harianfikiransumut.com | Meranti - Sidang penceraian Ardat Lurah Selatpanjang Timur dengan istrinya yang berlansung digedung Pengadilan Agama Selatpanjang Kabupaten Kepulauan Meranti pada hari senin 22/03/2021.

Pada sidang kali ini membacakan putusan Hakim, karena pemeriksaan perkara sudah dilakukan beberapa kali, dalam putusan itu pemohon (Ardat) mengajukan permohonan untuk menceraikan istrinya. 

Adapun hak istri yang diputuskan oleh hakim diantaranya; uang Iddah selama tiga bulan sebesar Rp.6.000.000, selain itu ada juga uang Mut'ah atau kenang kenangan sebesar Rp.24.000.000,_ dan biaya nafkah anak tiga orang sebesar Rp 3.000.000.

Hakim sudah memutuskan dengan mempertimbangkan kepentingan pemohon dan termohon. Adapun biaya yang dikeluarkan pemohon yakni sebesar Rp 33.000.000,_
Dan kalau tidak puas dengan putusan ini, bisa melakukan upaya hukum yakni banding di Pengadilan Tinggi Agama Pekanbaru.

Dikatakan Hakim, jika dalam masa 14 hari pemohon tidak melakukan banding, maka keputusan ini dianggap sah dan mempunyai kekuatan hukum tetap.

Namun setelah mendengar putusan tersebut Ardat mungkin tidak terima dan terjadi kekisruhan,namun bisa diatasi oleh Satpol PP. 

Mengapa hal ini bisa terjadi, fiksum mengadakan konfirmasi sama Ardat yang juga Lurah Selatpanjan Timur, kepada fiksum Ardat mengatakan, sebagai manusia biasa yang tak lepas dari kesilapan, memang saya terbawa emosi, salah satu alasan saya, pernah mantan istri saya sesumbar mengatakan pada saya terimalah nanti tangis tak berair mata, saya menggunakan pengacara top yaituh pengacara MT, dan pengacara penceraian Ustad abdul Shomad, entah apa maksudnyapun saya tidak mengerti, yang jelas ungkapan kata kata ini selalu terngiang ditelinga saya.

Sementara dari lubuk hati yang paling dalam, untuk menafkahi anak tentu jadi prioritas saya, baik tempat tinggal, uang belanja dan biaya pendidikan, namun itu akan saya sediakan sendiri, tampa melalui mantan istri, selama ini mantan istri sayapun pasti tau, saya tak pernah mengotak ngatik gajinya sebagai pegawai negeri, karena saya adalah kepala rumah tangga.

Yang jelas sekali lagi saya klarifikasi, kisruh yang terjadi di Pengadilan Agama Selatpanjang itu setelah usai sidang/atau selesai pembacaan putusan, bukan pada waktu persidangan, pungkasnya.


Penulis : Karim

Komentar

Berita Terkini