harianfikiransumut.com

Diduga Koperasi MSJ Jadi Pelindung Pengusaha Arang Illegal

fiksumNews.com - Rupat Utara : Berdalih Koperasi MSJ diduga menjadi pelindung cukong arang dan penyebab habisnya Hutan mangrove yang berada di Desa Putri Sembilan Rupat Utara, Senin, (19/10)

Ratusan ton kayu bakau di tebang di daerah pesisir pantai Rupat, terutama Selat Morong  diambil kayunya sebagai bahan baku untuk pembuatan arang.

Informasi yang dihimpun tim media, di perkirakan lebih dari 5 orang cukong arang yang diketuai oleh AT di Rupat bersama HK, AK, AB, KS diduga kuat mereka juga memberikan setoran kepada dinas terkait baik di Rupat maupun di Bengkalis bahkan di yakini sampai ke provinsi untuk melancarkan usahanya.

Tidak hanya Selat Morong, tapi juga di sungai Penuntun, Sungai Niur, Tanjung Medang bahkan sampai ke pesisir pantai, hutan kayu bakau yang langsung berbatasan dengan laut lepas Selat Malaka.

Jika satu orang pengusaha mempunyai 30 orang pekerja dikalikan dengan penghasilan kayu perorang satu ton, berarti   setiap pengusaha dapat menghasilkan 30 ton setiap harinya.

Jika ada lima pengusaha besar pemotong kayu bakau, berarti ada ratusan ton kayu bakau setiap harinya yang di musnahkan, sudah tentu perlu waktu yang panjang untuk penanaman dan mengembalikan ke habitanya semula. 

"Sementara untuk Big Bos AT sendiri, memiliki lebih dari 30 orang anggotanya, Jadi sudah berapa kubik setiap minggunya kayu bakau itu habis.

Belum lagi pengusaha kayu bakau yang menengah dan kecil dan jual serabutan hasil arangnya.

Dalam hal tersebut pihak Koperasi juga tidak bisa bertanggung jawab untuk mengelola hutan, memang mereka juga melakukan penanaman baru, tapi hanya sebatas saja, sedangkan setiap minggunya sudah ribuan ton kayu yang mereka tebang.

Jadi jelas koperasi MSJ ini sebagai topeng pengusaha untuk mengelabui pemerintah dalam  menghancurkan lahan mangrove di Rupat." Ujar salah seorang tokoh masyarakat yang tak mau disebutkan namanya .

Untuk mencari kebenarannya, awak media juga berusaha melakukan konfirmasi terhahap Selamat R selaku pemilik Koperasi lewat selulernya, pada Minggu, (18/10) kemarin.

Dikatakannya, bahwa dia bekerja sesuai prosedur dan untuk masalah ijin dia sudah lengkap jadi dia nggak takut, ungkapnya.

"Untuk mencari faktanya tim mencoba menyusuri dapur arang di sepanjang Selat Morong dan faktanya Sagat mengejutkan karena hampir setiap kampung yang di singgahi, masyarakatnya selalu menyebutkan ada dapur arang dengan bos pembelinya ini dan itu.

Pantauan awak media,  banyaknya dapur arang dalam kapasitas besar masih  beroperasi di daerah tersebut.

Menurut sumber, ada puluhan dapur arang yang setiap kali Operasi dan bisa menghasilkan kayu bakau hingga 40 - 50 ton

" Bagaimana tidak abrasi itu bisa  terjadi di sungai Selat Morong dan pulau ini, lihat saja semakin berkurangnya ikan dan kepiting yang menjadi penghuni pulau ini,  punah akibat hilangnya kayu tersebut yang terus diambil tanpa ada penghijauan kembali.

Kami harapkan sebelum terjadinya perkara yang lebih besar lagi, mohon para instansi pemerintah untuk bersama membendung hal ini dan menertibkan serta memberi penyuluhan kepada masyarakat bahwa akan pentingnya menjaga ekosistem,.

Tidak hanya kepada para pengusaha arang tapi juga kepada perusahaan yang lain yang ada di seputaran pulau Rupat ini." Ujar sumber menutupi (Indra. S) 

Komentar

Berita Terkini