-->

Kain Bekas Disulap Jadi Pot Bunga Cantik

fiksumNews.com — Lampung Selatan : Siapa sangka, ternyata dari kain pakaiyan bekas bisa diubah menjadi sebuah pot bunga yang cantik. Ditangan sumardi (49) warga Desa Buring Sukabaru Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan ini ternyata, Pakaiyan bekas, kaos bekas, Handuk,sarung tidak terpakai bisa menjadi barang yang lebih memiliki manfaat dan nilai ekonomi tinggi.

Sumardi mendapatkan ide membuat pot bunga dari Pakaiyan bekas tersebut, dari adik kandung yang berada di serang. Sumardi mencoba peluang, karena belum ada yang menggunakan media Pakaiyan bekas tersebut.

“Awalnya saya lihat dari adik saya, memanfaatkan barang bekas. Karena di Indonesia belum ada terus saya coba pakai pakaiyan bekas yang ada di rumah,” ujar sumardi waktu ditemui oleh dede ahmad wartawan
fiksumNews.com Jum'at (05/09/2020)

Sumardi tidak hanya memanfaatkan pakaiyan bekas saja, namun juga Sarung, kaos tidak terpakai, diubahnya menjadi pot bunga yang indah.

Proses pembuatan pot dari Pakaiyan bekas ini, cukup sederhana. Awalnya kain pakaiyan bekas atau bahan lain yang mudah menyerap air, dicelupkan ke dalam adonan semen bercampur pasir. Setelah tercelup dalam kondisi basah, kain pakaiyan tersebut dibentuk sesuai keinginan kita. Kemudian diangin-anginkan hingga mengering.

“Saya bekerja dibantu anak. Untuk pengecatan tergantung permintaan juga. Tetapi warga lebih senang tampilan pot yang berwarna warni serta meriah,” jelasnya.

Meski terlihat gampang, membuat pot dari kain pakaiyan bekas ini ternyata sulit dalam pengerjaannya. Dibutuhkan ketelitian dalam menentukan campuran komposisi adonan semen dan pasir. Bila kurang pas maka lapisan semen akan retak dan pembuatan pot gagal.

Dalam satu minggu, Sumardi hanya mampu membuat 15 sampai 25 pot dengan berbagai ukuran. Pot kecil berukuran diameter 10 centimeter dengan tinggi 20 centimeter dan paling besar berdiameter 30 centimeter dengan tinggi 50 centimeter. ukuran yang dibuat ini sesuai pesanan dan besar kecilnya bahan kain yang tersedia.

Harga yang ditawarkan untuk kerajinan ini bervariasi, tergantung besar kecilnya ukuran. Sumardi menawarkan harga antara Rp 20 ribu hingga Rp 50 ribu perbuah.

“Untuk pemasarannya masih dari desa sini saja, dan juga beberapa desa lain yang ada di Penengahan. Saya ingin kerajinan ini menjadi kerajinan khas desa saya, dan bisa menjadi lapangan pekerjaan pemuda desa,” harap Sumardi.(Dede ahmad) yang
Komentar

Berita Terkini