-->

Dimakamkan Sesuai Protokol COVID-19, Keluarga JS Kecewa


harianfikiransumut.com - Pelalawan : Evan (19), hanya bisa menangis melihat jenazah ayahnya ditangani sesuai dengan protokol COVID-19 di Rumah Sakit (RS) Amelia Medica, Pangkalan Kerinci, Pelalawan. JS (54), merupakan satu dari sekian pasien yang ditetapkan sebagai Pasien Dengan Pengawasan (PDP) oleh petugas medis.

Kepada Harianfikiransumut.com, Evan yang ditemui usai upacara pemakaman mengaku sangat kecewa dengan penetapan status PDP dan penanganan sesuai protokol COVID-19 terhadap ayahnya. Sebab sepengatahuan keluarga, sang ayah tidak pernah keluar kota dan penyakit yang diderita selama ini adalah diabetes yang membuat kondisi kesehatannya terus menurun.

Diceritakan Evan, sebelum dinyatakan meninggal dunia di RS Amelia Medica, JS pertama kali dibawa ke RSUD Selasih pada Selasa sekitar pukul 20.00 WIB, setelah itu, sekitar pukul 03.00 WIB dinihari, ayahnya dirujuk ke RS Amelia dan menjalani isolasi.

"Kami tidak tahu betul mengenai kesehatan, sebelum dirujuk ke RS Amelia Medica, dokter mengatakan pada saya untuk menyampaikan pada perawat bahwa pasien ini yang di isolasi itu," ungkapnya.

Hingga sang ayah meninggal, Evan dan keluarga sama sekali belum mendapat keterangan bahwa JS sudah ditetapkan sebagai PDP. Sesaat setelah dinyatakan meninggal, Evan tiba-tiba kaget melihat beberapa orang memakai baju putih-putih. "Setelah diberitahu ayah meninggal, saya langsung disuruh memakai baju putih,Tentu keluarga langsung kaget," terang Evan.

Pada dasarnya, Evan dan keluarga meyakini bahwa kepala keluarga mereka itu sama sekali tidak terpapar wabah COVID-19, karena selalin tidak pernah keluar daerah, sosok bapak itu belakangan sering berada di rumah karena kondisi kesehatan yang kurang memungkinkan untuk bekerja.

"Karena penanganannya seperti ini, tentu kami sekeluarga kecewa. Kami yakin kalau bapak tidak terpapar COVID-19, bapak selama ini mengidap sakit diabetes," ulasnya.

Kekecewaan juga sempat diungkapkan salah seorang keluarga, terutama mengenai pamakaman dengan protokol COVID-19. Karena akan berdampak pada kondisi sosial keluarga yang ditinggalkan, secara otomatis akan dikucilkan di tengah masyarakat.

"Kecewa saja, selama ini kita tahu bahwa JS menderita sakit diabetes, bahkan keluarga yakin bahwa yang menyebabkan JS meninggal itu adalah penyakit diabetes. Tapi sayangnya petugas tetap bersikeras pemakaman dilakukan secara protokol COVID," kesalnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pelalawan, Asril, M.Kes kepada media ini menegaskan bahwa dalam menetapkan seseorang menjadi PDP, terlebih dahulu petugas medis melakukan pemeriksaan. "Ada serangkaian pemeriksaan yang dilakukan sebelum pasien ditetapkan sebagai PDP, jadi terhadap JS sudah dilakukan pemeriksaan tersebut," pungkasnya.(74Yung)
Komentar

Berita Terkini