-->

Diduga Proyek Gagal Konstruksi Di Pelalawan Kok Cair Seratus Persen


harianfikiransumut.com - Pelalawan : Keberadaan dermaga merupakan infrastruktur penting bagi masyarakat di kawasan perairan di Kabupaten Pelalawan, seperti halnya di Pulau Mendol, Kecamatan Kuala Kampar yang berada di Hilir Sungai Kampar.

Dengan demikian, kualitas dari proyek harus terukur dan menjadi perhatian penting, terutama bagi Aparat Penegak Hukum (APH).

Berdasarkan investigasi yang dilakukan oleh tim Forum Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Riau Bersatu pada Selasa, (17/3/2020), salah satunya pada proyek Pembangunan Dermaga Penyalai Desa Teluk Dalam Kecamatan Kuala Kampar yang dikerjakan pada tahun 2017 silam, diduga ada indikasi kegagalan proyek.

Meski baru berusia 2 tahun, namun dermaga yang menelan anggaran Rp 2,8 miliar itu terindikasi gagal konstruksi pada awal pengerjaannya.

Bahkan Koordinator Forum LSM Riau Bersatu Wilayah Pelalawan, Devit Amriadi menyebutkan terdapat pengurangan volume pada beberapa item pada proyek yang dikerjakan PT. PBJ

Lebih detail Devit mengatakan, proyek yang bersumber dari APBN DAK (Afarmasi Transportasi Pedesaan) itu terindikasi gagal dapat dilihat dari pemasangan tiang pancang dengan struktur tanah (soundir soil) yang dimintakan pada level kondisi tanah keras.

"Sementara kalendering tidak bisa dipertanggung jawabkan untuk pelaksanaan pekerjaan tersebut, semua tiang pancang tidak menggunakan fellir sebagai pengaman tiang pancang dari kadar air asin," paparnya.

Begitu juga dengan pekerjaan Roller Dermaga yang tidak sesuai dengan apa gambar, akibatnya saat dermaga bergerak naik dan turun terjadi gesekan yang keras. "Artinya ada dugaan konsultan pengawas dan tim PHO proyek itu tidak turun ke lapangan, atau ada kongkalikong dengan pihak ketiga," ujarnya.

Tidak sampai disitu saja, Devit menyebutkan masih banyak terdapat bukti proyek tersebut asal jadi, diantaranya seperti joint welding lantai dermaga tidak disambung sempurna dengan las, pemasangan tiang pancang beton prategang dan pracetak, penyambungan tiang pancang besi. Begitu juga dengan pemasangan trestle (1 kali sambung), pemancangan dermaga (2 kali sambung).

"Semuanya tidak dapat di buktikan, Potongan sisa tiang pancang beton dari gambar, sehingga perhitungan/ trestle titik tidak sesuai dengan gambar. Dari beberapa pekerjaan yang tidak sesuai itu menimbulkan kerugian negara, terutama mengenai pengurangan item serta volume pekerjaan," tandasnya.

Selanjutnya, mengenai adanya temuan dan bukti-bukti tersebut, Forum LSM Riau Bersatu meminta Kejaksaan Negeri Pelalawan untuk segera memeriksa dan melakukan audit terhadap proyek miliaran rupiah tersebut. Dengan adanya temuan awal, Korp Adyaksa diminta cermat dalam melihat pelanggaran hukum.

Dan yang paling mendasar dalam kongkalikong pihak ketiga dan pejabat terkait itu terlihat jelas ketika proyek terindikasi gagal tersebut bisa cair seratus persen.

Terlebih lagi, melihat topografi Desa Teluk Dalam termasuk dalam salah satu daerah terluar, sehingga kemungkinan main mata antara pihak ketiga dengan Dinas Perhubungan sangat besar.

"Kejaksaan tidak boleh tutup mata dengan kerugian negara yang disebabkan proyek ini. Hasil investigasi di lapangan, kita sangat yakin semua pejabat terkait ikut dan terlibat merugikan negara. Pertanyaannya jelas, mengapa proyek gagal konstruksi itu bisa cair 100 persen." pungkasnya.(74Yung)
Komentar

Berita Terkini