|

Ahli Waris Suku Melayu(Antan Antan) Tuntut Kembalikan Hak Atas Tanah Ulayah Desa Batang Nilo.

harianfikiransumut.com - Pelalawan : Mediasi yang dilaksanakan di Mapolres Pelalawan antara management perusahaan PT Adei dan pihak Persukuan Melayu (antan-antan) (Senin 15/10)

Dalam pertemuan itu masyarakat yang tergabung dalam persukuan Melayu, Bathin Telayap, mengclaim tanah Ulayah mereka, yang mana telah dikuasi pihak PT Adei berada dalam HGU perusahaan, sementara tanah Ulayah itu sudah ada semenjak perusahaan berdiri, terlihat jelas adanya kepung sialang yang jejak nya masih terlihat diareal PT Adei,di perkirakan seluas 9,6ha sementara.

Berdasarkan pengukuran yang melibatkan pihak BPN itu sekitar 11ha,
Menurut ahli waris suku Melayu(antan-antan) Nantan/Ibrahim, pertemuan atau mediasi seperti ini sudah sering kita laksanakan kalau tidak salah sudah ada 15 kali pertemuan bahkan melibatkan pak Camat dan Polres namun sangat di sayangkan pihak perusahaan PT Adei tak kunjung merealisasikan permohonan kami, yang kami tuntut adalah luas lahan sekitar 9,6ha yang ditanami kepung sialang(tanah kepung Sialang).

Sementara bathin Telayap pak Gindad yang juga turut hadir dalam beberapa kali pertemuan katanya, pertemuan seperti ini yang di pasilitasi pihak polres baru empat kali juga tidak ada solusinya,nampaknya perusahaan sangat keberatan dengan permohonan kita, selanjutnya kami dari semua pihak yang terlibat dalam tanah ulayah berdasarkan surat ahli waris tahun 1986 atas nama bathin desa batang Nilo akan membuat aksi demo menuntut hak kita yang telah di ambil oleh pihak perusahaan PT Adei,oleh sebab itu mohon kepada media agar membantu kami dalam kegiatan ini tandas bathin dengan nada kesal.

Ditempat terpisah Humas PT Adei Budi Simanjutak melalui pesan whatsApp nya " Tuntutan menganai pohon Sialang.
Yg mana didalam HGU kita itu merupakan bagian dari perusahaan masih didalam HGU dan perusahaan melestarikan itu sebagai bentuk sejarah dan menjaga supaya tetap asli.

Mereka menuntut lahan kepung Sialang itu dengan luasan 9,6 Ha.
Sementara hasil pengecekan yg real dilapangan 2 Ha saja yg masih ada pohon/ pokok hutan.
Dari awalnya kita tanam sampai sekarang tidak ada yg dirubah.

Mereka menuntut ganti rugi terhadap kekurangan lahannya per hektar 250 jt.Karena itu masih masuk dalam HGU perusahaan.
Dan perusahaan tidak melarang dari pada masyarakat untuk mengambil hasil madu sialang dari pohon yang ada dan tetap sama sama menjaga kelestarian pokok(batang) sialang tersebut.
Masih kata Budi dalam pertemuan tersebut  Mempertahankan pendapat masing-masing,

Perusahaan ikut prosedur dan sudah legalitas serta ada aturan yg mengatur jalannya perusahaan, sementara untuk program CSR kita selalu laksanakan untuk batang nilo baru-baru ini kita bantu alat berat untuk buka lahan seluas 14 ha di desa, program buka lahan tanpa membakar (zero burning).Tutur Bud mengakhiri.(74yung)
Komentar

Berita Terkini