|

Seorang Tukang Cukur Rambut Perjuangkan Pendidikannya Hingga Lulusan Sarjana.



harianfikiransumut.com - Aceh Tamiang : Sebut saja Nanda Wan Prayuda, Mahasiswa berpenghasilan sebagai tukang cukur rambut mampu mengakhiri pendidikannya hingga lulusan Sarjana Teknik Sipil di Universitas Samudra (Unsam) dengan IPK 3,16, Rabu,(11/09/2019).

Pria yang akrab disapa Nanda itu menjadi pusat perhatian di antara ribuan wisudawan di Aula Gedung Serbaguna Universitas Samudra, saat diwisuda pada Sabtu 11 Oktober 2018 lalu.

Nanda berusaha bekerja untuk memenuhi permintaan orang tua nya yang telah banyak memberikan do'a dan nasehat nya. janjinya sambil mengenakan toga,” tuturnya.

Nanda menceritakan, ingin menunjukkan kepada dunia bahwa bekerja tukang cukur juga bisa untuk mencukupi kebutuhan hidup, termasuk untuk membayar kuliah. Memulai  usaha bekerja tukang cukur sejak tahun 2011.

Nanda harus mewujudkan cita-cita yang telah disampaikan oleh orang tuanya pada saat memasuki kuliah semester awal di tahun 2011, Nak, semoga nanti kamu bisa membahagiakan orang tua mu y nak", sebut Nanda menirukan doa orang tuanya.

“Lima tahun bekerja tukang cukur,. Saya harus menahan segala keinginan, demi untuk melanjutkan pendidikan sarjana S1, agar menjadi sebuah motivasi untuk kedepannya bisa kita ciptakan perubahan baru untuk negeri kita tercinta ini ,” tuturnya.

“Seiring berjalannya waktu, kata Nanda, Ianya mendaftarkan diri sebagai calon peserta mahasiswa baru di universitas Samudra (Unsam) walaupun pekerjaannya hanya sebagai tukang cukur tapi  tetap semangat untuk melanjutkan kejenjang kuliah S1 ini, dengan tekadnya yang bulat,” sebutnya.

Nanda sendiri merupakan anak pertama dari tiga bersaudara, Kedua saudara nya laki dan perempuan juga membantu ortua untuk menghidupi kebutuhan keluarga nya.

Prinsip dalam hidupnya, adalah tak pernah ada kata menyerah, Kita harus mampu, karena do'a dan Usaha pasti tidak akan mengkhianati hasil, walaupun profesinya sebagai seorang Tukang Cukur, menurutnya, walau hanya menjadi Tukang Cukur ianya  bisa untuk mencukupi kebutuhan hidup, cetusnya.

Saat menjalani masa perkuliahan dan bekerja, Nanda membagi waktu dengan baik. Setiap pagi pukul 08.00 - 12.00 WIB, ia bekerja setengah hari siang, setelah itu ia lanjut masuk kuliah dari pukul 13.30 - 17.00 WIB, Kemudian, sepulang keliah ia harus bekerja lagi hingga pada pukul 20.00- 22.45 WIB, dan itu dilakukannya dengan sendiri dan ikhlas.
Tanpa di sadari, profesi sebagai tukang cukur yang ditekuninya mampu mengantarkannya memasuki semester akhir kuliah di universitas Unsam.

Diakuinya, sempat terlintas ingin menyerah di tengah jalan karena beban yang dihadapinya begitu berat, Terlebih, saat bekerja tukang cukur tidak ada pelanggan. Kondisi itu membuatnya cemas dan hampir putus asa.

“Do'a dan Usaha yang sudah menjadi prinsip awal, tetaplah menjadi kunci nya untuk tetap tegar, sembari mendapatkan nasihati orangtuanya, "Kalau usaha tidak boleh menyerah, kalau menyerah akan gagal terus,” tuturnya mengakhiri, (pakar).
Komentar

Berita Terkini