LANGKAT

OLAHRAGA

DAERAH

Akses Darat Putus Total karena Banjir, Ekonomi Lumpuh, Warga Pelalawan Terpaksa Bayar Mahal Agar Bisa Menyeberang

Jumat, 14 Desember 2018 | 14.04 WIB
Kali Dibaca |

Sebarkan:
harianfikiransumut.com - Langgam :  Hampir sepekan terakhir, akses jalan darat Langgam-Pangkalan Kerinci putus diterjang banjir. Untuk keluar daerah warga memilih mode transportasi air (pompong, red). Namun jangan terkejut,  pemilik mode transportasi laut ini, mematok harga yang 'mencekik leher'.

"Untuk sekali penyebarangan pemilik mode transportasi mematok harga Rp150.000 per satu unit kendaraan roda dua," ucap Ujang (50) warga Pangkalan Kerinci saat memanfaatkan mode transportasi ini guna menjenguk keluarganya di kelurahan Langgam.

Tidak ada alternatif lain menuju kelurahan Langgam sekitarnya, sambung Ujang, walau harga dirasa mahal mencekik leher, pemilik mode transportasi ini juga mewanti-wanti pemilik kendaraan, bahwa tumpangan yang diberikan  tidak memiliki asuransi jika nantinya terjadi kecelakaan di jalan.

"Artinya penumpang yang menanggung kerugian atas kecelakaan di jalan," imbuhnya
Lantas berapa waktu yang dibutuhkan guna sampai ke seberang,  Ujang melanjutkan bahwa waktu yang dibutuhkan mencapai 1,5 jam.

"Disini bukan waktu yang panjang jadi persoalan, yang dikhawatirkan adalah medan tempuhnya yang sangat menantang.  Dimana melewati semak belukar, batang kayu hutan melintang badan jalan terkadang membuat pompong pecah.

Hanya pemilik pompong saja yang tahu akses jalan  air ini.  Itupun tidak ada kepastian selamat, tahun semalam pompong menghantam balok kayu, seisi pompong berserakan tak terkecuali kendaraan menjadi hanyut diseret derasnya air sungai kampar," ujarnya.

Terpisah, Brilian warga Kelurahan Langgam kepada media ini, Jumat (14 Desember 2018) mengatakan bahwa aktivitas perekonomian warga nyaris lumpuh.

"Disini kebutuhan pokok mengalami lonjakan, kemudian stoknya juga mulai menipis. Para pedang tidak bisa lagi masuk ke pasar - pasar tradisional di wilayah kecamatan Langgam," ujarnya, Brilian sendiri belum merinci kebutuhan pokok yang harganya mulai mahal dari biasanya.(Duliater)

Baca Juga

Komentar

Berita Terbaru